Ia memanggil saya setiap pagi.. untuk terus
mengarahkan hati saya kepada-Nya. Ia pertama-tama bukan memanggil saya untuk
menjadi imam, tapi panggilannya adalah panggilan untuk mencintai-Nya. Menjadi
imam adalah wujud cinta saya kepada-Nya..
Allah memanggil saya
untuk mencinta.. mencinta apa saja yang ada di sekeliling saya.. mencinta apa
saja yang ada dalam diri saya juga..
Allah memanggil saya untuk meninggalkan manusia
lama.. dan Ia sabar menunggu saya..
Allah memanggil saya untuk menyerahkan diri saya
kepada-Nya.. dalam determinasi-Nya, saya menemukan kebebasan saya seutuhnya
sebagai manusia. Menyerahkan kebebasan saya kepada-Nya, adalah sebuah penemuan
kembali kebebasan hidup saya di dalam-Nya..
Allah memanggil saya untuk melihat diri saya
sendiri.. Ia ingin saya melihat itu dengan cara yang baru.. melalui sudut
pandang-Nya.. bukan dengan penilaian saya sendiri.
Allah mengajak saya untuk berdoa di setiap saat..
memaknai setiap pekerjaan yang saya kerjakan sebagai doa saya.. sebagai tanda
cinta saya kepadanya.. kerap kali tidak sempurna, tapi panggilan lembutnya
membuat saya lebih sabar terhadap diri saya sendiri akan ketidaksempurnaan saya
dalam pekerjaan..
Allah memanggil saya.. Ia kadang memperlambat
langkah saya agar saya dapat melihat lebih seksama... agar saya dapat
berpartisipasi dan larut dalam sapaan cinta-Nya setiap detik..
Allah memanggil saya dan meminta saya untuk melihat
teman-teman sekomunitas saya.. dan Ia meminta saya untuk mencintai mereka tanpa
syarat...
Allah memanggil saya untuk mencintai imam-imamnya..
bukan untuk menghakimi mereka.. Ia meminta saya agar saya terus membuka diri
mencinta tanpa henti.. karena cinta yang berasal dari Tuhan tidak akan pernah
kehabisan dayanya..
Allah meminta saya bergembira dalam belajar.. “carilah sesuatu yang dapat engkau bagikan
bagi para domba-dombaKu kelak..” kata-Nya.. tampaknya keinginan untuk
mendapat nilai yang bagus berasal dari saya.. tapi kehendak-Nya melampaui itu
semua.. Ia melihat jauh ke depan.. ke masa yang tidak saya bayangkan.
Allah memanggil saya, terkadang Dia hanya diam..
hanya keheningan yang menari diantara kami.. tapi saya perlahan mulai menyadari
bahwa keheningan-Nya memiliki makna yang penuh dan utuh.. tidak ada pembicaraan
diantara kami.. saya hanya mencoba berpartisipasi dalam hadirat-Nya.

0 komentar:
Posting Komentar