Maraknya perceraian belakang ini membuat keprihatinan saya sebagai orang kristiani tergugah. Saya sangat menyayangkan suatu pernikahan yang kudus berakhir dengan penyelesaian yang tidak baik, saya berharap posting kali ini dapat membawa berkat bagi setiap anggota keluarga di Indonesia, dan saya rasa akan sangat bermanfaat bagi saudara-saudara yang hendak membangun sebuah bahtera rumah tangga
Pastor tua itu masih belum bisa memahami mengapa seorang suami tega-teganya memukul kepala isterinya dengan kayu. Hal itu ia ketahui ketika sang isteri mengadu masalah itu kepada pastor.” Ini pastor, jidat saya benjol-benjol. Pipi juga memar : darah masih mengucur dari bibirku ini”. Pastor yang baru dari kembali dari kunjungan orang sakit itu memperhatikan wajah wanita separuh baya tersebut. “bagaimana mungkin suami mu begitu kejam sampai-sampai membuat wajahmu begitu tidak karuan?”
Pastor kemudian mendatangi rumah keluarga yang bermasalah tersebut. Keduanya dihadapkan. Setelah berbicara agak lama. Pastor kemudian mengancam sang suami. “awas, kalau engkau memukul isterimu lagi, saya akan menghajar engkau dengan tangan kosongku ini”. Sebelum meninggalkan ruang tamu, pastor masih sempat mendengar kata-kata sang suami . “dengar kata pastor tadi?memukul dengan kayu tidak boleh; tetapi memukul dengan tangan kosong boleh “. Perselisihan dalam keluarga dari dengan kata-kata sampai dengan kekerasan merupakan hal yang tidak bisa dihindarkan. Akibatnya suasana dalam keluarga tidak tenteram. Masa depan terganggu. Hal ini sering sering akibat dari pandangan keliru mengenai bagaimana membina keluarga secara baik. Sejumlah kesalahan itu sering idak disadari.
Majalah “Readers Digest” dalam salah satu edisinya menurunkan beberapa pandangan keliru yang akhirnya menghancurkan keluarga. Apa sajakah pandangan tersebut?
1. Ada pandangan yang menghendaki pasangan lebih memperhatikan kualitas waktu dari pada kuantitas dalam berkomunikasi. Anggapan ini keliru. Menurut penelitian Nick Stinnet dari Departemen Pembangunan Manusia dan Keluarga pada Universitas Nebraska, ia menemukan 90% perkawinan langgeng karena pasangan menggunakan banyak sekali waktu untuk bersama. Sedangkan dari pasutri yang bercerai, sebagian besar biasanya menggunakan waktu pas-pasan untuk bersama.
2. Ada pandangan kemarahan sebaiknya dipendam agar tidak mengganggu hubungan dalam keluarga. Cagred Broderick professor sosiologi pada Universitas California Selatan malah menganjurkan agar kemarahan diungkapkan, dianalis, dan diselesaikan. Kemarahan dapat bekerja sebagai smoke detector. Alat ini dapat membantu anda agar mengambil tindakan yang tepat. Seorang konselor keluarga menceritakan pengalaman seorang wanita yang sangat sulit menahan emosinya. Bila suaminya dianggap bersalah atau melakukan tindakan yang tidak menyenangkan ia langsung menyemprot dengan kata-kata yang menyakitkan. Sudah dapat dibayangkan, akan timbul perang terbuka yang membuat peralatan pecah belah berkurang jumlahnya satu persatu. Untuk mengatasi masalah ini, ia mendatangi seorang psikolog yang sekaligus konselor keluarga. Oleh konselor itu yang juga seorang imam, ia diberi sebotol air. “ini adalah obat penangkal emosimu; cara menggunakannya ialah, bila emosi ibu menjadi-jadi, teguklah air ini dan biarkanlah air itu berada di mulut; jangan ditelan, sampai kemarahan redam”. Ibu itu mencoba dan berhasil. Selama meneguk air itu dan membiarkannya di dalam mulutnya, tidak terjadi lagi keributan dalam rumah baik dengan suami maupun dengan anak-anak. Ia kembali ke pastor dan mengucapkan terimakasih. Oleh pastor ia mendapat penjelasan bahwa air yang diberikannya hanyalah air minum biasa. Khasiatnya adalah, dengan menahan air dalam mulut, seseorang tidak dapat mendapat kesempatan untuk berbicara atau mengucapkan kata-kata yang meledak-ledak karena kemarahannya itu. Ini adalah salah satu cara mengendalikan kemarahan dalam keluarga.
3. Pandangan ketiga,”orang yang berbahagia dalam perkawinan tak pernah mencurahkan masalah pribadi pada pasangannya” . hal ini keliru, terbukti dari penelitian David Mace, seorang konselor keluarga. Ia pernah mengadakan penelitian dan dari sekian banyak data, ia tertarik pada masalah-masalah pribadi dalam keluarga. Terdapat 85% pasangan suami isteri yang biasanya menahan permasalahan dalam hatinya dan tidak mau menceritakan kepada pasangannya mengalami keretakan dalam rumah tangganya. Masalah-masalah yang sering disimpan di dalam hati ialah keuangan, kesehatan, kegoncangan jiwa, pekerjaan, dan perasaan tidak seimbang. Mereka tidak mau menceritakan hal itu karena takut melukai perasaan pasangannya. “sebenarnya bila pasangan anda mengetahui masalah itu,akan muncul suatu perasaan dari pasangan bahwa anda membutuhkan dia”, kata David. Dengan demikian,janganlah segan-segan menceritakan masalah pribadi pada pasangan anda. Seorang wartawan senior menceritakan pengalamannya bagaimana ia menyampaikan masalah yang ia hadapi di kantor. Ia diberhentikan dari tempat kerjanya dan sebagai imbalan, ia mendapat pesangon. Tapi ia tidak berani menceritakan kasusnya kepada isterinya menjadi stress. Karena itu, ia mengajak isterinya berziarah ke suatu tempat dan di depan gua Maria, ia baru menyampaikan masalahnya. Dan mereka kemudian menyerahkan masa depan mereka kehadapan Tuhan Yesus dengan perantaraan Bunda Maria. Kini ia mendapat kedudukan yang layak di sebuah surat kabar besar di ibu kota dan dapat melanjutkan kelanggengan keluarga bersama isterinya.
4. Pandangan yang terakhir ini adalah yang paling parah, menurut pandangan ini, bila semua upaya sudah diupayakan dan tetap tidak berhasil, maka satu-satunya jalan ialah bercerai. Jalan semacam ini adalah sebuah kesalahan besar. Ada beberapa pemikiran bahwa setelah bercerai dan menikah lagi, maka pernikahan yang kedua berlangsung dengan sukses.itu adalah pandangan yang sama sekali salah. Perceraian bukanlah jalan keluar, tapi malah menambahkan masalah baru. Luka batin yang ditimbulkan akan membuat kepaitan berkepanjangan yang sangat sulit disembuhkan. Mari dengan bantuan rahmat Roh Kudus mohon hikmat dalam setiap permasalahan yang ada. Kita kembalikan semua permasalahan kepada Tuhan, karena saya sangat yakin, apabila Bapa di surga mempercayakan suatu masalah kepada kita, sudah ada penyelesaiannya dan dengan bantuan Rahmat dan Kasih KaruniaNya saya percaya tidak ada masalah yang tidak dapat diselesaikan dengan baik.
Oleh karena itu saya sangat menyarankan setiap sahabat-sahabat saya yang sedang menjalani suatu hubungan lawan jenis benar-benar mengenal satu sama lain dan dibimbing Roh Kudus dalam proses ke arah perkawinan, apabila saudara-saudara saat ini sudah mengarungi bahtera rumah tangga, saya ajak anda untuk berdoa dan berserah secara PENUH kepada Allah Bapa di surga, agar kemudi bahtera kita kembalikan kepadaNya dan biarlah Bapa yang menuntun langkah rumah tangga kita kedepannya. Tiada yang mustahil bagi orang percaya, karena Roh Allah turut bekerja.
Tuhan Yesus memberkati..
”Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tanganNya”
Mazmur 19:2

