Tuhan Tolong saya!
(Segera)
Pada
hari Sabtu sampai dengan Minggu ini saya mengisi salah satu acara Tangerang Youth
Day. Pengalaman ini sangat menarik karena saya dapat melihat generasi muda
Gereja, semangat dan daya gerak mereka yang luar biasa. Saya mengikuti acara
tersebut bersama dua rekan saya, Fr. Camel dan Fr. Patrick.
Saya
mendapatkan berbagai macam pengalaman yang menarik, mulai dari perjumpaan
dengan orang muda, sharing pengalaman, dinamika acara dan lain
sebagainya. Namun, bagi saya ada satu momen yang menguatkan saya akan
penyertaan Tuhan dalam hidup umat-Nya. Pengalaman itu adalah “sakit vertigo
saya kambuh” ketika saya berada di Tangerang Youth Day (TYD).
Saya memiliki riwayat sakit vertigo berulang,
hal ini dimulai sejak (baca: karena) saya jaga UGD 24 jam. Tidak jarang kala
itu saya sering memaksakan kondisi tubuh saya, tidak tidur, tidak makan, dan
selama 24 jam melayani pasien sampai keesokan harinya disambung dengan rapat
pengurus ini dan itu. Pada malam kedua di TYD saya mengalami vertigo. Kalau
saya telusuri ternyata memang dalam dua hari belakangan saya tidak mendapat
kualitas tidur yang baik karena satu dan lain hal termasuk menyelesaikan konsep
acara yang akan kami bawakan di TYD. Ketika pagi hari (hari minggu) saya
merasakan pusing berputar sehingga tidak dapat bangun, padahal hari itu adalah
hari terakhir dan akan ada misa penutup.
Fr.
Camel dan Fr. Patrick mengatakan saya tidak usah memaksakan diri dan tidur saja
di kamar. Mereka sarapan terlebih dahulu dan saya masih mencoba bangun dan
mengendalikan vertigo saya. Saya mencoba untuk mandi, namun tidak kuat.
Beberapa saat kemudian pusing berputarnya semakin kencang sehingga membuat saya
muntah-muntah. Dalam kondisi tersebut saya memohon kepada Tuhan agar saya dapat
segera sembuh. Pada satu titik, saya menyadari bahwa ini adalah kesempatan saya
untuk mempersatukan penderitaan yang saya alami dengan penderitaan Kristus demi
keselamatan jiwa-jiwa para anak muda khususnya di Tangerang. Setelah saya
berdoa penyerahan dan penyatuan penderitaan saya yang sedikit ini, saya memohon
agar Tuhan menyembuhkan saya segera dan saya dapat ikut serta dalam perayaan
Ekaristi.
Setelah
saya berdoa, saya berharap ada mujizat sentuhan Tuhan secara langsung dan
segera. Saya membayangkan kepala saya akan menjadi hangat dan vertigo saya
hilang, namun hal itu tidak terjadi. Saya berpikir apakah Tuhan tidak
mengabulkan doa saya, padahal saya ingin ikut Ekaristi. Mengapa tidak terjadi
mujizat kesembuhan? Saya hampir menyerah dengan vertigo saya yang semakin menjadi-jadi.
Sampai pada akhirnya Fr. Camel datang dan mengatakan bahwa tim P3K memiliki
obat vertigo dan membawakannya untuk saya. Seketika itu hati saya melonjak
kegirangan, dengan penuh rasa syukur saya segera meminum obat, dan setelah
beberapa saat saya dapat mengikuti Ekaristi.
Kejadian
itu menyadarkan saya bahwa terkadang, bahkan kerap kali, Tuhan bekerja dengan
cara yang tidak sesuai dengan apa yang saya pikirkan. Atau lebih tepatnya
pikiran saya yang tidak sesuai dengan apa yang Tuhan pikirkan. Kerap kali saya
ingin Tuhan membantu saya secara langsung dan dengan cara yang ajaib. Namun
ternyata, Tuhan bekerja melalui diri sesama saya, dengan cara yang sangat biasa
dan wajar. Tuhan tampaknya ingin mengajarkan saya bahwa Ia bekerja melalui
manusia-manusia di sekitar saya.
Lebih
jauh lagi, peristiwa vertigo ini membuat saya semakin sadar bahwa mewujudkan
kerajaan Allah di dunia ini tidak melalui proses yang instant, tidak harus
melalui hal-hal yang luar biasa dan menggemparkan. Namun tampaknya lebih banyak
melalui hal-hal yang tampaknya sangat manusiawi. Manusia harus mampu bekerja
sama dengan gerakan Roh Allah yang ada dalam dirinya. Di satu sisi saya semakin
terbuka bahwa pertolongan Allah ada dalam diri orang-orang di sekitar saya, di
sisi yang lain saya juga berharap agar mampu menjadi tanda kehadiran Allah bagi
orang-orang di sekitar saya.